KISAH
AYAM & BEBEK
Di
sebuah desa yang dikelilingi oleh perbukitan hijau dan ladang jagung yang luas,
terletaklah Peternakan Lembah Asri. Peternakan ini dihuni oleh berbagai macam
hewan yang hidup rukun. Namun, di antara riuhnya suara hewan-hewan tersebut,
ada satu pemandangan yang selalu menarik perhatian: persahabatan antara Riko,
seekor ayam jantan muda yang gagah, dan Dodi, seekor bebek berbulu putih
bersih yang tenang.
Di
dunia unggas peternakan itu, ayam dan bebek biasanya memiliki kelompok
bermainnya masing-masing. Para ayam lebih suka mengais tanah kering untuk
mencari cacing, sementara para bebek menghabiskan hari-hari mereka dengan
mengambang dan menyelam di kolam yang jernih. Oleh karena itu, persahabatan
Riko dan Dodi sering kali menjadi bahan gunjingan hewan-hewan lain.
"Lihatlah
mereka," cibir seekor ayam betina tua suatu pagi. "Riko itu ayam
jantan pelindung, tidak seharusnya dia berteman dengan bebek yang jalannya saja
bergoyang-goyang lambat."
"Dodi
juga aneh," sahut seekor angsa dengan nada sombong. "Dia lebih suka
duduk di bawah pohon mangga di tanah kering daripada berenang bersama kita
sepanjang hari."
Namun,
baik Riko maupun Dodi tidak pernah mempedulikan omongan teman-temannya. Bagi
mereka, persahabatan tidak diukur dari bentuk paruh atau di mana mereka mencari
makan.
Setiap
pagi, Riko selalu menjadi yang pertama bangun. Dengan suara kokoknya yang
lantang, "Kukuruyuuuk!", ia membangunkan seisi peternakan,
termasuk Dodi yang biasanya masih terlelap. Dodi akan membuka satu matanya,
menguap lebar, lalu berjalan terhuyung-huyung menghampiri Riko. Sebagai
gantinya, Dodi akan memandu Riko ke bagian tanah yang sedikit lembap di dekat
kolam, tempat di mana cacing-cacing paling gemuk biasanya bersembunyi. Dodi
tidak suka cacing tanah, ia lebih suka ikan kecil dan siput air, jadi ia
membiarkan Riko menikmati semuanya.
Saat
siang hari yang terik tiba, Riko yang tidak suka air akan berdiri di tepi
kolam. Ia berteduh di bawah rindangnya daun talas sambil bercerita tentang
betapa luasnya ladang jagung di ujung peternakan. Dodi, yang sedang asyik
berenang, akan mendengarkan dengan saksama sambil sesekali mencelupkan
kepalanya ke dalam air untuk mendinginkan diri. Walaupun Riko tidak bisa ikut
berenang dan Dodi kurang lincah berlari di ladang, mereka selalu menemukan cara
untuk menghabiskan waktu bersama.
Hingga
pada suatu sore yang mendung, persahabatan mereka diuji.
Saat
itu, Pak Tani sedang pergi ke pasar desa dan lupa menutup gerbang belakang
peternakan dengan rapat. Riko sedang asyik mencari biji-bijian yang jatuh di
dekat pagar perbatasan yang berbatasan langsung dengan hutan kecil. Dodi sedang
tidur siang di dekat kolam, agak jauh dari posisi Riko.
Tanpa
Riko sadari, dari balik semak-semak belukar yang rimbun, sepasang mata kuning
menyala sedang mengawasinya. Itu adalah seekor musang hutan yang
kelaparan. Dengan gerakan tanpa suara, musang itu mengendap-endap mendekati
Riko.
Tiba-tiba,
ranting kering terinjak oleh musang itu. Krek! Riko menoleh dan
terkesiap. Musang itu langsung melompat menerkam! Riko mengepakkan sayapnya
dengan panik dan berlari sekuat tenaga. Namun, karena terkejut, arah larinya
salah. Riko justru berlari menuju kolam yang dalam, bukan ke arah kandang.
Riko
terpojok di tepi kolam. Di depannya ada air yang dalam—tempat yang sangat
ditakuti ayam karena mereka tidak bisa berenang—dan di belakangnya ada musang
kelaparan yang mulai menyeringai memamerkan gigi-giginya yang tajam.
"Tolong!
Tolong!" Riko berkotek dengan suara yang melengking panik.
Mendengar
suara sahabatnya, Dodi terbangun. Matanya membulat melihat bahaya yang
mengancam Riko. Bebek memang tidak memiliki cakar yang tajam atau paruh yang
runcing seperti ayam jantan, tetapi Dodi tahu ia harus melakukan sesuatu.
Dengan
kecepatan penuh, Dodi menceburkan dirinya ke air dan berenang ke arah Riko.
Tepat saat musang itu bersiap untuk melompat menerkam Riko, Dodi mengepakkan
sayapnya di permukaan air dengan sangat keras. Byuuuur! Cipratan air
yang deras langsung mengenai wajah dan mata musang tersebut.
Musang
itu terkejut, menggeram kesal, dan mengucek matanya yang perih. Kehilangan
keseimbangan sejenak, musang itu mundur satu langkah.
"Riko!
Cepat lompat ke atas batang kayu ini!" teriak Dodi sambil menunjuk sebuah
batang kayu tebal yang kebetulan mengapung di dekat tepi kolam.
Tanpa
berpikir panjang, Riko melompat ke atas batang kayu tersebut. Dodi segera
memosisikan dirinya di belakang kayu dan mendayung dengan kedua kaki selaputnya
sekuat tenaga. Ia mendorong kayu itu menjauh dari tepian, membawa Riko ke
tengah kolam yang aman dari jangkauan lompatan musang.
Musang
yang sudah bisa melihat kembali hanya bisa menggeram marah di tepi kolam. Ia
mondar-mandir mencari cara, namun ia takut air dan buruannya kini sudah berada
di tengah kolam.
Menyadari
dirinya sudah aman, Riko mengambil napas panjang. Ia tahu musang itu masih
menunggu di tepi kolam dan mereka belum sepenuhnya aman. Riko membusungkan
dadanya dan mengeluarkan senjata terbaiknya. Ia berkokok dengan suara yang jauh
lebih keras dan panjang dari biasanya.
"KUKURUYUUUUK!
KUKURUYUUUUK!"
Suara
lengkingan Riko yang tak wajar itu menggema ke seluruh penjuru peternakan. Tak
lama kemudian, terdengar suara langkah kaki manusia yang berlari. Pak Tani yang
baru saja pulang dari pasar mendengar keributan itu dan bergegas datang membawa
tongkat bambu panjang.
Melihat
Pak Tani datang, musang itu ketakutan dan lari terbirit-birit kembali ke dalam
hutan kecil.
Pak
Tani kemudian mengulurkan tongkat bambunya, menarik perlahan batang kayu yang
ditumpangi Riko kembali ke tepi. Riko melompat ke tanah yang kering dengan
gemetar, sementara Dodi berenang mengikutinya di sampingnya.
Malam
itu, di dalam kandang utama, suasana sangat hening. Hewan-hewan lain yang
menyaksikan kejadian itu dari kejauhan merasa malu pada diri mereka sendiri.
Ayam betina tua dan angsa sombong yang sering mengejek mereka kini terdiam.
Mereka menyadari bahwa perbedaan fisik dan kebiasaan bukanlah penghalang untuk
memiliki kesetiaan dan kepedulian. Riko yang gagah telah diselamatkan oleh Dodi
yang lambat, berkat kerja sama yang sempurna.
Sejak
hari itu, tidak ada lagi hewan di Peternakan Lembah Asri yang berani mencemooh
persahabatan mereka. Riko dan Dodi membuktikan bahwa persahabatan sejati tidak
memandang bulu. Ayam dan bebek itu tetap menjadi sahabat tak terpisahkan;
menjaga satu sama lain, dari daratan hingga ke tepi kolam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar