TERPENOID
Terpenoid “merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari
senyawa terpen. Terpen merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak
dihasilkan oleh tumbuhan dan sebagian kelompok hewan.
Rumus molekul terpen adalah (C5H8)n. Terpenoid disebut juga dengan
isoprenoid”. Menurut Bimasatria (2017) dalam
Dictio.id.
Sedangkan
menurut Rudi Cahyono (2017) dalam Dictio.id juga mengungkapkan bahwa:
Terpenoid adalah
kelompok senyawa metabolit sekunder yang terbesar, dilihat dari jumlah senyawa
maupun variasi kerangka dasar strukturnya. Terpenoid ditemukan berlimpah dalam
tanaman tingkat tinggi, meskipun demikian, dari penelitian diketahui bahwa
jamur, organisme laut dan serangga juga menghasilkan terpenoid. Selain dalam
bentuk bebasnya, terpenoid di alam juga dijumpai dalam bentuk glikosida,
glikosil ester dan iridoid.
Terpenoid
juga merupakan komponen utama penyusun minyak atsiri. Senyawa- senyawa yang
termasuk dalam kelompok terpenoid diklasifikasikan berdasarkan jumlah atom
karbon penyusunnya.
A. Klasifikasi Terpenoid
Sebagaimana penjelasan di atas, senyawa terpenoid tersusun atas
karbon-karbon dengan jumlah kelipatan lima. Diketahui juga bahwa sebagian besar
terpenoid empunyai kerangka karbon yang dibangun oleh dua atau lebih unit C-5
yang disebut unit isoprene. Disebut unit isopren karena kerangka karbon C-5 ini
sama seperti senyawa isopren.
Monoterpenoid, terbentuk dari dua satuan isoprene dan membentuk struktur
sikklik dan rantai terbuka, merupakan komponen utama minyak atsiri. Berbentuk
cair, tidak berwarna, tidak larut dalam air, berbau harum dan beberapa bersifat
optis aktif. Segolongan monoterpenoid dengan struktur yang agak berbeda dikenal
sebagai iridoid. Senyawa ini sering dijumpai dalam bentuk glikosidanya.
Seskuiterpen, berasal dari tiga satuan isoprene dan seperti monoterpenoid,
terdapat sebagai komponen minyak atsiri.
Di samping struktur asiklik, dikenal beberapa kerangka untuk senyawa
monosiklik, bisiklik dan trisiklik. Berdasarkan strukturnya, kebanyakan
seskuiterpen bisiklik dapat dipilah menjadi yang memiliki kerangka naftalen dan
kerangka azulen. Diterpenoid, berasal dari empat satuan isopren. Senyawa ini
ditemukan dalam damar dan getah berupa gom. Kerumitan dan kesulitan dalam
pemisahan menyebabkan hanya sedikit senyawa golongan diterpenoid yang telah
diketahui strukturnya, dibandingkan dengan senyawa terpenoid yang lain.
Strukturnya bervariasi dari mulai yang asiklik hingga tetrasiklik.
Triterpenoid dalam jaringan tumbuhan dapat dijumpai dalam bentuk bebasnya,
tetapi juga banyak dijumpai dalam bentuk glikosidanya. Triterpenoid asiklik
yang penting hanya skualen yang dianggap sebagai senyawa antara dalam
biosintesis steroid. Sejauh ini tidak ditemukan senyawa triterpenoid dengan
struktur monosiklik dan bisiklik. Triterpenoid trisiklik jarang dijumpai,
tetapi yang tetrasiklik cukup dikenal. Triterpenoid yang paling tersebar luas
adalah triterpenoid pentasiklik.
Tertraterpen, tidak pernah mempunyai sistem cincin kondensasi yang besar.
Senyawa golongan ini dapat berupa senyawa asiklik, monosiklik atau bisiklik.
Yang paling dikenal dari golongan ini adalah karotenoid, suatu pigmen berwarna
kuning sampai merah yang terdapat pada semua tumbuhan dan berbagai jaringan.
Karotenoid yang paling tersebar luas adalah beta karoten. Turunan teroksigenasi
dari hidrokarbon karoten adalah xantofil. Dikenal juga tetraterpenoid yang
tidak berwarna. Perbedaan ini disebabkan oleh ada atau tidaknya ikatan rangkap
dua terkonjugasi.
Politerpen, yang terpenting dalam golongan ini adalah karet, yang diduga
berfungsi sebagai zat pembawa dalam biosintesis polisakarida tertentu dalam
jaringan tanaman. Stereokimia pada semua ikatan rangkap dua ditunjukkan sebagai
cis. Guta dan balata adalah poliisopren juga tetapi strukturnya semua trans.
Berat molekul guta kebanyakan lebih rendah daripada karet. Karet dapat
dibedakan dari guta berdasarkan kekenyalannya dan kelarutannya yang tidak
sempurna dalam hidrokarbon aromatik.
B. Asal usul, isolasi dan penentuan struktur senyawa Terpenoid
Pada mulanya, para ahli kimia
mengajukan hipotesa bahwa sintesa terpenoid in vivo dalam jaringan organism
melibatkan secara langsung senyawa isoprene. Hipotesa ini didukung oleh
penemuan bahwa (+) atau (-) limonene dan (+) – limonene (disebut juga dipenten)
pada pirolisa dapat menghasilkan isoprene. Begitu pula dua unit isoprene pada
pemanasan dapat menghasilkan dipenten melalui reakasi Diels-Alder.
Monoterpen :
Seskuiterpen :
Diterpen :
Politerpen :
Terpenoid tidak teratur :
Terpenoid terdiri atas beberapa
macam senyawa, mulai dari komponen minyak atsiri, yaitu monoterpena dan
sesquiterepena yg mudah menguap (C10 dan C15), diterpena menguap, yaitu
triterpenoid dan sterol (C30), serta pigmen karotenoid (C40).
Masing-masing golongan terpenoid itu penting, baik dalam pertumbuhan
dan metabolisme maupun pada ekologi tumbuhan. Terpenoid merupakan
unit isoprena (C5H8). Terpenoid merupakan senyawa yang kerangka karbonnya
berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan
dari hidrokarbon C30 siklik yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklik
yang nisbi rumit, kebanyakan berupa alcohol, aldehid atau atom karboksilat.
Mereka berupa senyawa berwarna, berbentuk kristal, seringkali bertitik leleh
tinggi dan aktif optic yang umumnya sukar dicirikan karena tak ada kereaktifan
kimianya.
C. Bioaktivitas Pada Terpenoid
Lumut termasuk ke dalam jenis
tumbuhan tingkat rendah yang umumnya tumbuh di tempat-tempat basah dan lembab.
Tumbuhan lumut sering disebut sebagai tumbuhan perintis, karena kemampuannya
yang dapat tumbuh dalam berbagai kondisi lingkungan. Dalam bidang medis,
pemanfaatan tumbuhan lumut sebagai obat tradisional telah lama digunakan masyarakat
di negara Cina, Eropa, dan Amerika Utara. Di Indonesia, penelitian-penelitian
terkait kandungan bioaktif lumut masih sangat kurang. Padahal dari segi letak
geografisnya Indonesia berada di iklim tropis yang memiliki beragam jenis
tumbuhan lumut. Sejak awal ditemukannya bakteri-bakteri resisten antibiotik,
eksplorasi terhadap sumber-sumber baru antibakteri terus dilakukan. Hal ini
disebabkan bahwa bakteri resisten antibiotik tidak dapat diaktifkan menggunakan
antibiotik yang ada (komersil), walaupun diberikan dalam dosis tinggi.
Ekplorasi-eksplorasi yang dilakukan diantaranya adalah dengan mengekstrak
berbagai bahan alami asal tumbuhan, salah satunya yaitu tumbuhan lumut.
Tumbuhan lumut diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktif dengan beragam aktivitas
biologis. Beberapa aktivitas biologis yang teramati antara lain adalah bersifat
sebagai antitumor, antikanker, antivirus, antikapang, dan antibakteri. Potensi
ini perlu untuk dikembangkan, terutama sebagai sumber alternatif baru
antibakteri.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa
kandungan bioaktif lumut sebagian besar teridentifikasi sebagai senyawa fenolik
dan terpenoid. Senyawa fenolik adalah substansi yang mempunyai cincin aromatik
dengan satu atau lebih gugus hidroksil sehingga sifatnya mudah larut dalam
pelarut polar. Beberapa contoh dari senyawa fenolik adalah fenolik sederhana,
asam fenolik, quinon, flavonoid, flavon, flavonol, dan tanin. Berbeda halnya
dengan senyawa terpenoid, senyawa ini merupakan senyawa utama penyusun fraksi
minyak atsiri dalam tumbuhan. Senyawa terpenoid terdiri dari monoterpenoid,
sesquiterpenoid, diterpenoid, dan triterpenoid. Senyawa fenolik dan terpenoid
memiliki sifat dan aktivitas antibakteri yang berbeda. Akan tetapi, secara umum
mekanisme antibakteri kedua senyawa tersebut adalah dengan merusak struktur
dinding sel dan mengubah permeabilitas membran sitoplasma sel. Perubahan dan
kerusakan yang terjadi selanjutnya akan menyebabkan kebocoran bahan-bahan
intraseluler dan terganggunya sistem metabolisme sel. Untuk memperoleh
kandungan senyawa bioaktif pada tumbuhan, faktor penting yang harus
diperhatikan adalah metode ekstraksi. Ekstraksi merupakan proses pemisahan
suatu senyawa tertentu menggunakan pelarut organik berdasarkan derajat
polaritasnya. Pemilihan metode ekstraksi yang sesuai sangat menentukan kualitas
dari senyawa antibakteri yang akan dihasilkan. Salah satu metode ekstraksi yang
umum digunakan untuk mengekstrak senyawa bioaktif pada tumbuhan adalah metode
ekstraksi bertingkat. Dalam metode ini proses ekstraksi terbagi dalam tiga
tahap. Proses ekstraksi tahap pertama dan kedua dilakukan dengan menggunakan
pelarut non polar (n-heksana, sikloheksana, toluena, dan kloroform) dan semi
polar (diklorometan, dietil eter, dan etil asetat), sedangkan proses ekstraksi
tahap ketiga menggunakan pelarut polar (metanol, etanol dan air).
Salah satu jenis tumbuhan lumut yang
sering diteliti kandungan bioaktifnya karena berfungsi sebagai antibakteri
adalah Marchantia polymorpha. Menurut Asakawa, seorang peneliti asal
Universitas Tokushima Bunri Jepang, M. polymorpha termasuk ke dalam kelas lumut
hati (hepaticae). Sifat antibakteri ekstrak lumut M. polymorpha dipengaruhi
kuat oleh senyawa fenolik sederhana yang disebut Marchantin A. Lebih lanjut,
sebagai perbandingan Asakawa menyatakan bahwa untuk mendapatkan 120 gram
senyawa Marchantin A dalam bentuk murni, maka dibutuhkan sebanyak 6,67 kilogram
bahan lumut dalam bentuk kering. Penelitian lainnya terkait bioaktivitas
tumbuhan lumut adalah pengujian ekstrak lumut Plagiochasma commutata terhadap
beberapa bakteri Gram positif dan Gram negatif. Penelitian ini dilakukan oleh
Ilhan, seorang peneliti asal Universitas Osmangazi Turki. Hasil penelitian
tersebut menyimpulkan bahwa ekstrak dari lumut P. commutata memiliki aktivitas
antibakteri yang kuat terhadap bakteri uji yang digunakan. Bakteri uji Gram
positif yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Bacillus mycoides, B.
cereus, B. subtilis, dan Micrococcus luteus, sedangkan bakteri uji Gram
negatif, meliputi: Klebsiella pneumoniae, Yersinia enterocolitica, Pseudomonas
aeruginosa, Escherichia coli, dan Enterobacter aerogenes.
Hasil-hasil dari penelitian di atas
memberi gambaran singkat bahwa ekstrak tumbuhan lumut memiliki aktivitas
biologis sebagai antibakteri. Antibakteri yang diperoleh ini nantinya
diharapkan dapat digunakan secara luas dalam dunia medis. Terlebih lagi
sebelumnya mengingat bahwa kondisi wilayah Indonesia memiliki beragam jenis
tumbuhan lumut yang sangat berpotensi untuk dikembangkan.
permasalahan :
1. apa contoh terpenoid dalam kehidupan sehari-hari.?
2. bagaimana cara menemukannya di alam sekitar.?







Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yg kedua:
BalasHapusSenyawa terpenoid banyak kita temukan di alam, salah satunya adalah tumbuhan. Misalnya pada monoterpen dapat kita jumpai pada tanaman campora, minyak kayu putih. Pada seiskuterpen: bunga valerian, diterpen:Ginkgo Biloba, triterpen: Cucurbita foetidissima, tetraterpen: wortel, dan pada politerpen: tanaman karet.
Pada tumbuhan, senyawa-senyawa golongan terpenoid, merupakan metabolit sekunder. Terpenoid merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan terutama terkandung pada getah dan vakuola selnya. Terpen dan terpenoid dihasilkan pula oleh sejumlah hewan, terutama serangga dan beberapa hewan laut. Di samping sebagai metabolit sekunder, terpenoid merupakan kerangka penyusun sejumlah senyawa penting bagi makhluk hidup. Secara umum minyak atsiri adalah senyawa yang mengandung karbon dan hidrogen yang tidak bersifat aromatik yang disebut terpenoid.
Untuk permaslahan no 1, saya mengambil contoh dalam bentuk manfaatnya
BalasHapusGinkgolide dan bilobalide dari tumbuhan Ginko biloba. Tanaman ini bermanfaat untuk memperbaiki daya ingat dan konsentrasi. Attention deficit disorder (ADD) adalah sebuah gangguan syaraf yang menyebabkan seseorang tidak dapat berkonsentrasi terhadap apa yang dikerjakannya.
Ginkgo biloba adalah salah satu obat alami yang paling umum digunakan untuk mengobati gejala-gejala ADD tersebut. Ginkgo berfungsi untuk melancarkan aliran darah ke otak dan mencegah darah menjadi kental sehingga darah dapat membawa lebih banyak oksigen ke otak.
Dengan demikian otak akan cukup menerima makanan sehingga kita dapat berkonsentrasi, sehingga membantu orang menenangkan diri dan fokus pada satu kegiatan pada suatu waktu.
Saya ingin menanggapi pertanyaan pertama mengenai contoh terpenoid dalam kehidupan sehari-hari yakni dimana secara ekstraksinya terpenoid ini dikenal dengan minyak atsiri, misalnya minyak yang diperoleh dari cengkeh, bunga mawar ataupun serai. Selain itu golongan minyak atsiri ini juga banyak digunakan dalam industri wangi-wangian misalnya parfum
BalasHapusbaik saya akan menambahkan jawaban no 1
BalasHapusdimana kita ketahui salah satu penggolongan terpenoid yaitu tetraterpenoid yang lebih dikenal keratenoid. dapat ditemukan pada akar wortel, daun bayam, buah tomat dan biji kelapa sawit
saya ingin mencoba menjawab permasalahan nomor satu, contoh terpenoid didalam ehidupan sehari- hari yaitu Limoena dalam buah jeruk, Geraniol dalam mawar
BalasHapus